Selasa, 30 Oktober 2012

jangan jadi binatang lagi, apa lagi yang jalang


Cimahi, 20 bulan 8 tahun '12
by AgungKumin

“aku berjuang tapi kalah bu, ..ujarku, ..sekali lagi,coba sekali lagi,bahkan berkali-kali, karena kehormatan buat mereka yang bangun jika jatuh,buat mereka yang mati-matian melawan,  ,  
nak ! apa artinya menang tanpa perjuangan, main catur sendiri saja sana..”, sambungnya: “.. tak perlu menang, yang penting melawan dengan kesungguhan, itulah kehormatan,matipun!  itulah mati yang menyenangkan..”

Coba ingat ini,Tahun 1910 ada arit,ada palu, dengan itu mereka bisa melawan, tapi semua orang terlalu ramah,mereka menjaga tabu bahwa tamu ya memang raja,untuk sementara kompenilah yang harus dijamu, tapi  300 tahun menjadi tamu mereka tak sudi pulang jika tak ada yang melawan, kami kaum pribumi hanya tau bahwa menang ya bukan selamanya harus ada palu dan arit, kami masih manusia,kita semua manusia. Diplomasi penting,karenanya ada diplomator,
tapi dirodikan atau diromushakan sebenarnya sudah cukup jadi alasan buat kita melawan, bunuh satu siapa yang tau mungkin kita akan cepat merdeka.
waktu itu kata kakek : kami tidak takut mati,sebagai rakyat membela tanah ini mutlak amanat, mari kita lawan mari kita menang.karena merdeka itu bukan alternatif tapi sebuah kemestian.
kalian pernah dengar Pemberontakan 1926 tentang Tan Malaka, ini versi PKI hasil rapat di candi prambanan yang mengejutkan: PKI akan melakukan pemberontakan bersenjata terhadap kekuasaan Belanda. Di Semarang, Surabaya, Jakarta dan Medan, buruh melumpuhkan pabrik. Sampai Mei 1925, setahun kemudian 12 Nopember 1926 pemberontakan pecah di jakarta,Tangerang, Banten, Priangan, Solo, Banyumas, Pekalongan, Kediri dan Sumatra Barat juga. Mereka seolah muncul begitu saja. Massa berbondong-bondong membawa senjata. Ini tercatat sebagai pemberontakan pertama yang dipimpin sebuah organisasi
Indonesia dulu pernah bersekutu melawan satu,musuh Tuhan, mencapai satu, kemerdekaan. Hanya saja kita kurang terlalu jitu menentukan sekutu karena pada akhirnya kita dapat dipatahkan, tapi ini semua menghasilkan satu hal :keberanian, sepertinya pemberontakan tak pernah sia-sia, selalu ada pelajaran yang bisa ditimba. dikutip dari sebuah tulisan, Sajak di nisan Aliarcham—tokoh pemberontakan yang gugur di Digul waktu itu— memberikan lukisan:

Bagi kami kau tak hilang tanpa bekas, tidak!
Hari ini tumbuh dari masamu
Tangan kami jang meneruskan
Kerdja agung djuang hidupmu
Kami tantjapkan kata mulia hidup penuh harapan
Suluh dinjalakan dalam malammu
Kami jang meneruskan kepada pelandjut angkatan


19 tahun kemudian kami merdeka, selama itu kami berjuang, toh kemerdekaan sudah ditentukan,kau hanya perlu melawan, berjuang untuk menang-dengan kesungguhan,kau belum lahir tapi masamu sudah dibangun sejak dulu, dasar-dasar nya sudah rampung dibangun, dari lumpur dan batu-batu,berbahagialah, itu intinya..
Maka berjuanglah nak,ini masamu.. dibangun dari tetesan darah-darah masa penjajah, maka bangunlah surga diatasnya,
 jika masa kami adalah masa gelap mudah-mudahan masamu kini adalah masa terang, seperti kata kartini –karena habis gelap, terbitlah terang, 
sekali lagi semuanya adalah tentang mudah-mudahan... Aamiin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar